Sejak lama, para ilmuwan Muslim telah mengelompokkan ilmu-ilmu dengan genre sains dan teknologi, antara lain: ilmu optik, ilmu pengukuran dan pemetaan, ilmu tentang sungai dan kanal, ilmu tentang jembatan, ilmu tentang mesin kerek, ilmu tentang mesin-mesin militer, ilmu pencarian sumber air tersembunyi, dan lain-lain. Para penguasa Muslim dan masyarakat di zaman kekhalifahan Islam menempatkan para ahli rekayasa (engineer) dalam posisi yang terhormat lagi mulia.
Rekayasawan Muslim
Para rekayasawan Muslim sejatinya telah berhasil membangun sejumlah karya besar dalam bidang teknik sipil seperti bendungan, jembatan, penerangan jalan umum, irigasi, hingga gedung pencakar langit. Sejarah membuktikan, di era keemasan peradaban Islam telah ada bendungan jembatan (bridge dam). Bendungan dan jembatan ini digunakan untuk menggerakkan roda air yang bekerja dengan mekanisme peningkatan air. Tercatat, bendungan jembatan pertama ini pernah dibangun di Iran. Bendungan jembatan ini mampu menggerakkan 50 kubik air untuk menyuplai kebutuhan masyarakat kala itu. Setelah di Iran, bendungan semisal juga muncul di kota-kota lainnya. Dengan demikian masyarakat waktu itu itu tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Capaian lain yang dilakukan para ilmuwan Muslim silam adalah di bidang teknik sipil yaitu pembangunan penerangan jalan umum. Lampu penerangan jalan umum pertama kali dibangun di Cordoba. Pada malam hari, jalan-jalan di kota peradaban Muslim yang berada di benua Eropa dipenuhi lampu-lampu yang indah. Selain dipenuhi lampu-lampu nan indah, kota-kota di Andalusia juga dikenal sangat bersih. Ternyata, pada waktu itu para ulama dan ilmuwan sudah mampu membuat sarana pengumpul sampah, yang hari ini dikenal dengan kontainer. Capaian-capaian yang disebutkan ini agaknya belum pernah ada dalam peradaban manusia sebelumnya.
Dalam konteks ini, peradaban Islam sangat berbeda dengan peradaban-peradaban sebelumnya, yaitu peradaban Yunani, Romawi dan Byzantium, dalam hal memandang teknologi. Para cendekiawan Muslim menganggap teknologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang sah. Fakta itu terungkap berdasarkan pengamatan para sejarawan sains Barat di era modern terhadap sejarah sains di abad pertengahan peradaban Islam.
Kesimpulan
Demikian, ajaran Islam sejatinya tidak bertentangan dengan teori-teori pemikiran modern yang akurat selama tidak melanggar nilai-nilai tauhid. Dalam pandangan Islam, segenap kreatifitas yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama adalah legal. Kemajuan teknologi modern yang demikian pesat telah menghasilkan hasil-hasil teknologi canggih seperti radio, televisi, internet, alat-alat komunikasi dan barang-barang mewah lainnya. Dalam hal ini, maslahat dan mudaratnya sangat bergantung pada individu-individu. Sebab tidak dipungkiri, sejumlah produk-produk teknologi itu akan memberi manfaat manakala manusia menggunakannya dengan baik dan tepat. Tetapi dapat pula mendatangkan malapetaka manakala manusia menggunakannya untuk tujuan yang dilarang dalam agama (Islam).










